Setahun Olly-Steven Memimpin: Pariwisata Sulawesi Utara ‘Wow’ !

28 03 2017

Oleh

DINO GOBEL*

UNGKAPAN ‘’Pariwisata Sulawesi Utara (Sulut) Wow!’’ ini, pertama kali saya dengar dilontarkan sahabat saya, Bapak Vincent Jemadu, yang sehari-hari bertugas sebagai Asisten Deputy Promosi Manca Negara Divisi Asia Pasifik di Kementrian Pariwisata (Kemenpar) RI di Jakarta, saat bersua dengannya pada September 2016 lalu.
Vincent Jemadu mengaku punya alasan melontarkan ungkapan Wow yang identic dengan pujian itu. ‘’Beberapa tahun terakhir harus diakui Pariwisata Sulut anjlok. Pulau Bunaken nya kotor karena sampah. Kunjungan turis asing berkurang ke daerah ini, karena pengelolaan pariwisata yang tidak fokus. Walhasil, Manado (Sulut) tak masuk dalam penetapan 10 destinasi pariwisata prioritas Indonesia,’’ ujar Jemadu dengan kening berkernyit, prihatin.
Tapi luarbiasa menakjubkan, lanjut pejabat kementrian pariwisata yang rutin setiap bulan berkeliling ke Asia Pasifik mempromosikan potensi pariwisata Indonesia ini, ‘’Hanya dalam waktu dua bulan saja, dari Juli sampai Agustus 2016, kunjungan wisatawan asing membanjir ke Sulut dan mencapai 10 ribuan orang. Wow, Sulut hebat,’’ ujarnya berulangkali.
***
Ungkapan Vincent Jemadu hanya lah satu dari sekian banyak orang di Indonesia yang mengaku kaget terhadap kebangkitan pariwisata di Sulut secara fenomenal. Apalagi, bersamaan dengan meledaknya jumlah wisatawan asing ke daerah ini, baik Tiongkok maupun Eropa, Amerika dan Australia, sejumlah akses penerbangan langsung dari dan ke Manado menuju 8 sampai 12 kota di Tiongkok terjadi.
Bahkan, berdasarkan data Angkasa Pura dan Imigrasi Manado menyebutkan, dari 4 Juli hingga 31 Desember 2016, terdapat 37 ribu turis Tiongkok dan 3 ribuan turis Eropa, Amerika dan Australia berkunjung ke Sulut. Dibandingkan data serupa pada tahun-tahun sebelumnya, untuk waktu yang sama, hanyalah mencapai rata-rata 2 ribuan orang per bulan. Yang menarik, hingga akhir 2016, terdapat 5 penerbangan langsung dari dan ke Manado menuju 8 sampai 12 kota di Tiongkok.
Yang luarbiasa menarik dari data tersebut di atas adalah ketika Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut ketika merilis angka perbelanjaan turis Tiongkok di Sulut per orang mencapai rata-rata 10 sampai 15 juta per orang. (Versi Menteri Luhut Binsar Panjaitan yang dirilis di Jakarta Agustus 2016 menyebutkan, angka perbelanjaan turis Tiongkok di Indonesia rata-rata 20 sd 25 juta per orang). Artinya apa? Jika seorang turis Tiongkok ke Sulut berbelanja Rp10 juta per orang, untuk penginapan, makan minum dan souvenirnya, dan dikalikan 37 ribu orang, maka kita akan mendapatkan angka duit sebesar Rp370 miliar dana yang beredar dari kocek turis Tiongkok ke sentra-sentra pariwisata di daerah ini! Dan itu dinikmati sector pariwisata yang berefek domino ke sector tenaga kerja, pengrajin UKM, restoran dan bisnis lainnya dan ujung-ujungnya pada kenaikan pendapatan masyarakat.
***
Apa yang menjadi kiat keberhasilan kebangkitan pariwisata Sulut ini? Bagaimana caranya Sulut bisa ‘’melawan tradisi lama’’ dari aturan yang sudah baku terjadi di negeri ini, tak bisa ada penerbangan langsung regular turis asing khususnya Tiongkok ke sebuah daerah, selain Jakarta atau Bali? Bagaimana Sulut sukses melakukan itu? Apalagi sukses Sulut membangkitkan sector pariwisata dengan menggaet pasar Tiongkok dipuji berulangkali Presiden Joko Widodo yang langsung menegaskan fenomena itu sebagai momentum Sulut sebagai gerbang utara di Indonesia.
Sosok kepemimpinan Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw, adalah kunci di balik sukses kebangkitan pariwisata Sulut menjadi sebuah fenomena ‘’Wow’’.
Yah, sejak saya dipercayakan Gubernur melalui Wagub Steven Kandouw sebagai Kordinator Satgas Pariwisata Sulut pada 26 Juni 2016 lalu, yaitu sebuah kelompok kerja yang mengkordinir kelancaran arus wisatawan asing ke Sulut bersama instansi pemerintah horizontal maupun vertical dan stakeholder pariwisata daerah ini, saya menyaksikan langsung sejumlah gebrakan khususnya di sector pariwisata yang dilakukan OD-SK, sapaan akrab kedua pemimpin Sulut ini di mata masyarakat daerah ini. Mana sajakah hasil kerja keras OD-SK yang menghasilkan terbukanya pariwisata Sulut ke mencanegara itu ?
1. Melobi regulasi penerbangan langsung pemerintah pusat.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa selama ini belum ada kota di Indonesia Timur khususnya yang diijinkan untuk diterbangi penerbangan langsung dari luar negeri, selain Jakarta, Surabaya dan Bali. ‘’Tradisi’’ ini dipatahkan OD-SK. Buktinya, sejak mereka dilantik memimpin Sulut Februari 2016 lalu, lobi membuka penerbangan langsung Manado-Tiongkok itu ngotot dilakukan, ‘’Karena Tiongkok adalah pasar wisata potensial. Setahun ada 10 juta lebih orang berwisata keluar negeri dengan pembelanjaan per orang yang besar,’’ tegas Gubernur Olly Dondokambey dalam sebuah diskusi bersama saya beberapa waktu lalu.
Puji Tuhan, lobi ke Kementrian Perhubungan dan Presiden Joko Widodo membuahkan hasil. Ijin terbang maskapai Lion Air langsung Manado ke Tiongkok diijinkan pada 4 Juli 2016 lalu.
2. Kerja keras tak kalah luarbiasa yang dilakukan OD-SK adalah melobi maskapai penerbangan. ‘’Percuma ijin diberikan lantas pesawatnya taka da,’’ ujar Wagub Steven Kandouw. Siapa sangka, gencarnya lobi mendekati owner Lion Air Group Rusdi Kirana pun membuahkan hasil. Oleh Rusdi, sebanyak 5 sampai 8 pesawat Lion Air disiapkan menerbangi Manado-Tiongkok. Bahkan, partner usaha mereka di bidang tour operator yaitu MMTravel pun dilibatkan.
3. Bandara Sam Ratulangi resmi dijadikan Bandara ke-6 di Indonesia sebagai pelaksanakan kebijakan nasional Bebas Via (Visa on Arrival) kepada turis asing, termasuk Cina. Penetapan Bandara Sam Ratulangi sebagai pelaksana VoA tidaklah mudah. Sebab, hal itu membutuhkan pendekatan a lot dengan Kementrian Hukum dan HAM. ‘’Tuhan memberkati Sulut. Luarbiasa jaringan kerja Pak Olly dan Pak Steven di pusat. Bandara di Manado pun diijinkan menjadi pelaksana VoA,’’ kata Kadis Pariwisata Manado Hendrik Warokka. Seiring dengan itu, Bandara Sam Ratulangi pun ditetapkan sebagai bandara yang beroperasi 24 jam.
4. Dampak positif bagi perekonomian Sulut adalah meningkatnya serapan tenaga kerja di sector akomodasi pariwisata. Sebut saja, dalam setahun terakhir, hunian hotel di Sulut mencapai okupansi 80 sampai 90 persen yang disertai dengan hadirnya banyak bisnis hotel dan jasa akomodasi lainnya. Itu semua menyerap tenaga kerja tidak sedikit.
5. Masih tentang pendapatan perekonomian, BPS Sulut merilis angka perbelanjaan turis asing ke Sulut rata-rata Rp10 sd 15 juta per orang. Maka bisa dikatakan, dengan jumlah kunjungan wisatawan yang mencapai 40 an ribu turis selama Juli hingga Desember 2016 lalu, terdapat dana sebesar Rp400 miliar jika dikalikan 40 ribu orang dengan Rp10 juta saja perbelanjaan per orang. Dan dana sebesar itu mengalir ke jasa bisnis akomodasi pariwisata hingga sector souvenir dan kerajinan usaha kecil menengah yang jumlah pengusahanya mencapai hampir 2 ribu orang di Sulut.
6. Spirit pariwisata di seluruh kabupaten kota.
OD-SK berhasil melahirkan sebuah spirit kebangkitan pariwisata di seluruh kabupaten kota di Sulut. Lihat saja, sejak setahun terakhir berbagai gelaran iven wisata terjadi di berbagai kabupaten kota di daerah ini. usaha kerajinan kecil menengah tumbuh subur. Bisnis hotel, resor, restoran melesat dengan serapan tenaga kerja yang tidak sedikit.
***
Tangal 11 Februari 2017 nanti adalah setahun tepat kepemimpinan OD-SK membawa Sulut melangkah maju. Usia yang terbilang masih muda. Namun, harus diakui, gebrakan dan hasil kerja nyata keduanya khususnya di sector pariwisata langsung terlihat nyata. Tak hanya angka tapi juga efek domino terhadap kelangsung hidup masyarakat di daerah ini.
Meski begitu, masih banyak kekurangan yang harus diakui masih harus dibenahi. Khususnya di sector pariwisata, sejumlah persoalan masih menyeruak dan butuh penyelesaian seperti minimnya penguasaan Bahasa asing seperti Bahasa Mandarin, kurangnya atraksi dan obyek wisata hingga persoalan hospitality atau pelayanan. Tapi spirit OD-SK yang telah memulai kerja keras nan nyata ini, harus bisa dibenahi bersama antara masyarakat dan pemerintah. Dengan begitu di sector pariwisata, kunjungan turis asing akan terus meningkat. Sebab mereka akan merasa betah dan terus balik ke daerah ini.
***
Selamat setahun memimpin Sulut OD-SK dengan adanya hasil nyata. Selamat untuk masyarakat Sulut yang mempunyai pemimpin hebat ini. Mari torang bekerja sama wujudkan Sulut Hebat.
Tuhan selalu memberkati Sulut!
(penulis, aktivis media, kordinator satgas pariwisata Sulawesi utara)
*tulisan ini telah dimuat di hal 1 Koran KOMENTAR Manado, edisi 9 Februari 2017

#Sulut
#SulawesiUtara
#SulutHebat
#OllyDondokambey
#StevenKandouw
#ODSK
#SetahunKepemimpinanSulut
#SetahunODSKmemimpinSulut
#Manado
#PariwisataSulut
#PariwisataSulawesiUtara

Iklan




“Manado North Sulawesi Travel Mart 2017” Dikumandangkan di Lombok Travel Mart IV, Seluruh Tour Operator Asia Pasifik dan ASEAN Teriak “Yes, We Love Manado !!!”

28 03 2017

Tak sia-sia keikutsertaan tim DPD Asosiasi Pelaku Pariwisata (ASPPI) Sulut di hajatan Lombok Travel Mart (LTM) ke IV yang digelar di Lombok pada 24-27 Maret lalu.

Sebab, dalam perhelatan pariwisata terbesar di Indonesia yang sukses digagas DPD ASPPI Nusa Tenggara Barat (NTB) dan dibek up DPP ASPPI pusat di Pulau Gili Air itu, tim Sulut yang dipimpin Ketua Johni Pinaria dan Sekretaris Jouvendi Rompis serta sy sebagai tim pembina yang ikut mendampingi, menyaksikan langsung Sulut banyak diserbu karena diminati tour operator baik nasional maupun peserta dari berbagai negara di Asean dan Asia Pasifik lainnya seperti India dan Australia.

Dari pemantauan, antusiasme para tour operator luar terhadap Sulut itu karena potensi pariwisata daerah ini yang semakin populer.
“Banyak yang menawarkan kerjasama bahkan transaksi paket tour dengan kami di Sulut,” kata Pinaria.

Bahkan, yang menarik adalah ketika di akhir acara yang diikuti ratusan buyer dan seller itu, Ketua Umum DPP ASPPI Djohari Somad spontan mengumandangkan nama Manado, Sulawesi Utara akan dijadikan tuan rumah Travel Mart di akhir tahun 2017. Karuan saja pernyataan itu langsung disambut antusias dan aplaus peserta.
Sejumlah tour operator asing malah bersama meneriakkan
“Yess. We love Manado”

Melihat antusiasme pasar wisata asia pasifik saat ini, saya pribadi sepakat untuk mengajak semua stakeholder pariwisata di sulut, termasuk pemerintah kab.kota dan provinsi, untuk tetap fokus menggarap wilayah pasar asia pasifik (Tiongkok, Jepang, Korea, India) yang potensi pasarnya membujur hingga ke Australia.

Bahkan saat ini Gubernur torang pe daerah ini, Pak Olly Dondokambey sedang memimpin langsung delegasi Sulut melobi pasar wisata Jepang di Osaka. Ini luarbiasa dan perlu disuport penuh.

Tentu tekat ini tanpa mengenyampingkan pasar wisata Amerika dan Eropa yang diharapkan segera pulih pasca traumatik pasar akibat rangkaian teror Paris dan London yang memicu penurunan kunjungan ke Indonesia hingga 40 sd 65 persen (confert BPS feb 2017)

Sy usulkan pula di tengah booming dan beradanya Sulut dalam luberan pusaran pasar wisata dunia saat ini, kiranya pemerintah dan asosiasi wisata yang ada bersama membenahi terus infrastruktur dan aneka ragam atraksi yang masih kurang dan tak kalah penting penguasaan bahasa asing tak hanya bahasa Inggris bagi guide dan karyawan bisnis wisata hingga pada hospitality.
Sembari memotivasi keikutsertaan asosiasi maupun kabupaten kota dan promosi intens menggarap promosi di pasar wisata atau travel mart seperti lombokyang jelas jelas memiliki pasar dengan buyers yang ada. Bahkan sudah saatnya, kita menggagas iven travel mart sebagaimana yg akan dilakukan ASPPI di Manado Travel Mart nanti.

Artinya?
Sebagaimana spirit duet pemimpin daerah ini, Gubernur Olly dan Wagub Steven yang bertekat dan berulangkali memotivasi stakeholder pariwisata bahwa dalam menjadikan Sulut sebagai destinasi dunia di utara Indonesia, kita jangan hanya puas dengan pasar tiongkok yang mulai menjubeli daerah ini saja, tapi mari fokus ke pasar di luar itu termasuk domestik nasional.

So? ayo fokus dong kembangkan pasar wisata yang jelas sudah ada tanpa harus hamburkan uang untuk program berbalut promosi ratusan juta bahkan miliar yang takutnya mubazir dari sisi segmen dan outcome even itu bagi kemajuan pariwisata dari sisi pack kedatangan turis ke daerah ini !!

Mari jo torang tetap fokus majukan pariwisata sulut tercinta.

#SulutHebat
#ODSKforSulutHebat
#FokusDongUrusPariwisata





Manado, Sorga (Neraka) Investasi !

6 03 2010

Terbit di Manado Post, 25 Feb 2010

KOTA Manado tak ramah lagi terhadap investasi? Manado tak lagi sorga,tapi neraka investasi. Benarkah itu bung? Sejumlah pertanyaan kritis, setengah menggugat ini hampir sebulan terakhir dikirimkan sejumlah kawan pengusaha di Jakarta dan Surabaya serta beberapa anggota masyarakat di daerah ini ke handphone saya. Kebanyakan dari mereka mengaku pesimis dan sinis mengirimkan sms tersebut, karena belakangan ini muncul kesan meresahkan dunia investasi dengan kesan arogansi sebagian wakil rakyat di Dewan Kota (Dekot) Manado. ‘’Kami tak tahan lagi berinvestasi di Manado karena kami kerap diperlakukan bak penjahat oleh dewan, justru penyebabnya karena pelanggaran aturan yang kami sendiri bingung aturan seperti apa,’’ tulis salah satu pesan sms yang dikirimkan ke saya itu. ‘’Lebih parah lagi, media kemudian memblow up besar-besar di Koran bahwa bisnis anu dan itu melanggar, benar-benar kami diperlakukan seperti penjahat koruptor,’’ ketus sms lain.
Keresahan terhadap ketidakyamanan berinvestasi di Manado memang belakangan ini mencuat, tak hanya di kalangan pengusaha, namun juga bagi kita yang rajin mengikuti sejumlah pemberitaan di media cetak maupun elektronik terkait berbagai temuan kasus di lapangan dari hasil kunjungan dewan. Ironisnya, kasus ini bukannya berujung pada keberpihakan dewan terhadap investasi namun malah tuduhan bahkan rekomendasi mematikan para wakil rakyat agar investasi yang ada dihentikan. Sebut saja beberapa kasus ramai itu. Diantaranya, persoalan lobi utama Manado Trade Center (MTC) yang dinilai melanggar karena menjorok jauh hingga ke bibir jalan. Ada pula masalah MGP (Manado Gran Palace) yang melahirkan rekomendasi investasi ini ditutup saja. Lalu, persoalan di Paniki Jaya hingga pada serangan dewan terhadap masalah pasar Big Fish. Ada apa ini?
***
Kita semua mahfum jika dunia usaha identik dengan perilaku pengusaha yang tak mau macam-macam alias ingin aman. Dengan kata lain, tak ada pengusaha yang ingin bermasalah dengan hukum dan aturan resmi pemerintah. Sayangnya, dalam praktik, pengusaha selalu berhadapan dengan kebiasaan korup para pejabat dan kakitangannya di dinas anu dan itu saat mereka akan mengurus perijinan. Misalnya yang lumrah terjadi, saat akan mengurus surat izin tempat usaha dan IMB (izin mendirikan bangunan) banyak calo yang masih gentayangan di seputar instansi atau unit kerja dengam embel-embel ‘’pasti aman dan sesuai aturan’’, tentu disertai biaya siluman pula. Di sisi lain, tumpang tindihnya perda dan aturan serta instansi pelaksana, selalu membuat para pengusaha terjebak. Misalnya soal bayar pajak restoran apakah harus di Dispenda atau di Kantor Pajak? Sudah begitu, muncul lagi masalah lain, banyak perda investasi yang tak disosialisasi ke pengusaha.
Sayang. Berbagai pemicu masalah investasi ini terkesan gelap dan tak digubris. Jadilah miskomunikasi di lapangan ketika para wakil rakyat tiba. Tuduhan hingga keputusan-keputusan merugikan usaha atau investasi pun dilontarkan ke pengusaha. Lebih parah lagi, persoalan itu keburu diekspos di media massa dan diblow up keesokan harinya. ‘’Saya betul-betul dihakimi sepihak. Wakil rakyat yang saya pilih ternyata tak sebaik yang saya kira. Bukannya membina tapi menghakimi,’’ keluh seorang pengusaha yang mengaku sempat dirugikan. ‘’Ketika diundang hearing pun, forum itu berubah mirip peradilan.’’
***
Manado, masihkah sorga investasi? Saya ragu menjawab iya kalau perilaku wakil rakyat kita saat ini masih arogan dan meresahkan seperti yang tampak akhir-akhir ini. Padahal, dalam catatan saya, tak sedikit wakil rakyat berbekground pengusaha banyak hadir di Tikala untuk periode lima tahun kedepan. Jadi? Saya dan kita semua berharap kiranya iklim investasi tetap terjaga penuh dengan cara para wakil rakyat merangkul dan memfasilitasi forum-forum informal dimana pengusaha mendapat kesempatan mencari tahu perda atau aturan apa yang relevan untuk mereka. Pun, ikut menindak praktik calo atau tariff siluman dalam perizinan termasuk dan berbagai masalah yang disebabkan minimnya sosialisasi investasi. Kalau perlu, dewan ikut memprakarsai sebuah forum gathering dengan mengumpulkan para investor di ibukota provinsi ini. Forum rutin ini menggandeng kawan-kawan asosiasi usaha seperti Kadin. REI, PHRI dan lain semacamnya untuk berdiskusi dan membahas bahkan kemudian berpartisipasi ikut membangun kota tercinta ini? Kita berharap sorga investasi tak akan hilang, mal-mal besar di Manado, hotel dan gedung-gedung indah tak akan menjadi saran wallet di kemudian hari, hanya karena kota ini ditinggal kalangan pengusaha, hijrah ke daerah lain hanya karena arogansi pihak berwenang. Kembalikan senyum ramah para wakil rakyatnya, seramah ketika mereka mengumbar janji kala masa kampanye! Amin, semoga demikian. Maju terus dunia usaha. (penulis, direktur afiliasi manado post group, general manager harian radar manado)





sepiku, cape dehhhh

6 03 2010

sepiku, tak mirip sepimu, sepiku indah, sepiku hebat, sepiku dahsyat (tapi g mirip dahsyatnya luna maya di rcti hehehe),,,sepiku inofatif, sepiku…hmmm kau penasaran…mungkin karena aku sempat tinggal lama di bunker sepi di karanganyar tanah jawa sana dan bertahun-tahun di lembah bukit bantik di sudut selatan tanah minahasa…sehingga, mereka kaum parno nyaris tiada habis pikir, sepi seperti apa yang kupunya…namun toh, ada saat dimana kaum bobrok itu sok mengklaim sepiku, sok meremas dan merebut sepiku? cape deh.. pingin muntah dan lelah diri ini, bukan karena ku kalah..tidak..namun karena kutahu, aku kan melangkah dalam sepi semu, sarat intrik, sarat cari muka, sarat pembohongan,,,sarat saling bunuh…enerjiku disedot banyak… itu sebabnya kumemilih untuk tetap diam, merenung dalam sepi inofatifku… kusenyum dalam rencana dahysat Si Pemilik Sepi yang terlanjur menguasai diriku…





Jangan Lelah, Pariwisata Manado…

6 03 2010

Manado, 6 Maret 2010

Musim Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Sulawesi Utara ibarat genderang perang mulai ramai ditabuh..para incumbent rebutan duduk lagi di kekuasaan, kandidat lain, tak mau kalah…siapa sangka..di balik kesibukan ini..rakyat dan fasilitas publiknya yang harusnya diperoleh, malah ditelantarkan. terakhir, saking sibuknya pesta pilkada, tak dihiraukan lagi pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata. Akibatnya? per 25 FRebruari 2010 lalu, maskapai penerbangan Air Asia yang membuka rute Kuala Lumpur-Manado rersmi menutup jalur penerbangan ini. duh….ulasan saya di media, jeritan kawan2 pariwisata dicuekkin. padahal ada 5 sampai 6 ribu kamar hotel dan resort sudah kepalang tanggung operasi di Manado..padahal, Manado telah mengklaim sebagai kota wisata dunia..padahal, ada ribuan tenaga kerja menggantungkan diri di sektor ini…padahal?? ah padahal…